Catatan Pemikiran dan Refleksi

Monday, January 04, 2010

Posted by dg situru' | Monday, January 04, 2010 | No comments

Pernah dengar gak istilah komunitas? Saya yakin kalian dah pernah dengar kan! Tetapi apa sih komunitas itu? Secara sederhana komunitas bisa disamakan dengan kelompok sosial dari beberapa orang yang umumnya memiliki ketertarikan yang sama. Atau suatu entitas organik dimana individu-individu berperan sebagai kandungannya (ingredients).


Saya ingin mengajak teman-teman untuk menggaris bawahi dua istilah dari pengertian diatas yaitu kelompok dan ketertarikan yang sama. Kelompok merupakan kelembagaan yang biasanya bersifat tidak formal. Sedangkan ketertarikan yang sama, menunjukkan kalau komunitas itu haruslah memiliki basic need yang sama atau kebutuhan yang sama. Sarjono Soekanto mengatakan bahwa komunitas itu ada perasaan saling ketergantungan, sepenanggungan dan saling membutuhkan. Mereka menganggap dirinya sebagai ”kami” ketimbang dengan ”saya”. Umpamanya ”tujuan kami”, ”kelompok kami”, atau ”perasaan kami”.

Unsur sepenanggungan muncul karena setiap anggota komunitas sadar akan peranannya dalam kelompok. Setiap anggota menjalankan peranannya sesuai dengan posisi kedudukannya masing-masing.Unsur saling memerlukan muncul karena setiap anggota dari komunitas tidak bisa memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan anggota lainnya.

Di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (dulu IRM), pengembangan komunitas diprakarsai oleh Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insani (LaPSI), sebuah lembaga khusus yang bergerak untuk pengembangan kapasitas pelajar. Lewat gagasan komunitasnya, LaPSI mencoba membongkar kelompok ilmiah remaja (KIR) yang berbau ilmiah, eksakta, dan aktivisnya sering berkacamata tebal dengan menyodorkan KIR Kritis, sebuah bentuk aktivitas yang tidak harus penelitian, tetapi lebih luas cakupannya. Sehingga zaman itu kita kenal tumbuhnya komunitas-komunitas seperti acta diurna untuk jurnalistik, komunitas nol derajat, komunitas sufi (suka film india), dan komunitas sastra.

Para anggotanya pun lebih terbuka, tidak harus berkacamata tebal, tetapi ada juga yang tidak berkacamata, ada yang rambutnya kriting, lurus, ada yang kurus seperti lidi, ada pula yang gendut dan bahkan tidak pakai jilbab sekali pun. Seluruh bangunan pikiran diatas berangkat dari cara pandang multiple inelegancy (kecerdasan majemuk) yang dimiliki oleh manusia. Teori kecerdasan majemuk itu mengatakan bahwa paling tidak, manusia itu memiliki delapan kecerdasan: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis, kecerdasan visual, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan kinestetik, dan kecerdasan naturalis.

Prinsip Membangun Komunitas
Jadi dalam membangun komunitas harus berdiri diatas delapan kecerdasan tersebut. Seorang yang suka musik, jangan dipaksa terlibat dalam komunitas yang cenderung matematis-logis, karena komunitasnya akan kacau.

Karena itu ada sejumlah prinsip-prinsip yang menjadi landasan dalam mengembangkan komunitas. Prinsip itu: pertama, pemberdayaan. Komunitas dibangun dan digerakkan haruslah atas dasar memberdayakan, baik individu peserta komunitas atau pun kelembagaan komunitasnya. Pelajar yang memiliki kecerdasan linguistik misalnya, ia dapat tumbuh dan mengembangkan bakat puisi, atau tulis menulisnya didalam komunitas, karena itu komunitas berperan memfasilitasi bakat dan kemampuan linguisnya.

Kedua, partisipasi. Komunitas harus dibangun diatas prinsip partisipasi. Semua anggota komunitas karena memiliki kecenderungan yang sama, maka diantara mereka harus tumbuh kesadaran untuk berperan secara aktif. Sebab mustahil komunitas bisa tumbuh, kalau tidak ada partisipasi dari anggotanya.

Ketiga, aktivitas. Aktivitas dimaknai bahwa untuk mencapai cita-cita bersama, maka komunitas harus memiliki aktivitas. Dalam aktivitas ini ada tiga perangkat yang dapat menjadikan komunitas tersebut berjalan yaitu pertama, adanya sumberdaya manusia yang memiliki komitmen. Kedua, adanya jalinan jaringan (network) dan ketiga, adanya sumber dana (finance) yang cukup.

Seorang anggota komunitas harus memiliki konsep diri, berkarya karena kesadarannya, dan melakukan perubahan, membangun peradaban yaitu melalui berprestasi dan kemampuannya. Karena itu ia senantiasa mengasah kemampuannya untuk tetap survive dalam menggerakkan perubahan-perubahan kecil di ranah komunitas.

Menggerakkan Komunitas
Sebelum menggerakkan komunitas, maka sebuah komunitas sudah harus eksis atau berkegiatan. Untuk dapat eksis harus ada kebersamaan dan komitmen diantara anggota komunitas. Selanjutnya adalah membuat perencanaan. Komunitas harus memiliki rencana dan orientasi agar geraknya tertata dan taktis. Perencanaan komunitas paling tidak mengacu pada prinsip dari, oleh, dan untuk komunitas.

Suatu komunitas tidak harus langsung besar dengan anggota yang banyak, ia harus berproses dari yang sangat kecil. Kira-kira prinsipinya dimulai dari diri sendiri, kecil-kecilan, sederhana, dan paling penting berkelanjutan. Ingatlah prinsip small is beautiful. Jadi bagi anda yang memiliki hobby atau kesamaan-kesemaan dengan teman sesame pelajar, ajaklah berembug. Buatlah komitmen dan lakukanlah kegiatan-kegiatan yang kecil, tetapi perlahan namun pasti menuju ketitik tujuan yang dicita-citakan. Suatu hal yang penting dalam proses berkomunitas ialah, hadirnya seorang mentor, fasilitator atau apa pun istilahnya.

Mentor seperti seorang Mukti Ali dalam komunitas epistemik yang didirikan oleh Ahmad Wahib, M. Dawam Raharjo, dan teman-teman HMI-nya di Yogyakarta. Mereka perlahan tapi pasti tumbuh menjadi intelektual yang mewarnai jagad intelegensia di Indonesia dalam sebuah komunitas kecil yang rajin mendiskusikan tema-tema seputar pembaruan Islam di rumah Mukti Ali.

Dalam sejarah kita pun mengenal HOS Cokroaminoto dengan 3 kadernya, yaitu Sukarno, Semaun (Pemimpin PKI Madiun), dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (Pemimpin DI TII/ NII). Mereka berproses dalam sebuah dinamika komunitas yang mengantarnya ia tumbuh menjadi seorang pemimpin? Einstein pun punya komunitas diskusi bersama temannya Schrodinger! Ia menamai komunitasnya dengan The Royal Society, yang sudah ada semenjak Sir Isaac Newton dan itu bertahan hingga Stephen Hawking sekarang.

Demikian pula dengan Mansour Faqih yang membangun komunitas intelektual organik di beberapa kota. Berbekal dengan alat analisis sosial struktural dan metodologi pelatihan partisipatif ia menggerakkan Insist dan Pustaka Pelajar di Yogjakarta. Hampir semua buku serius yang ditulisnya diterbitkan penerbit yang didirikannya. Di situ juga Fakih mensuplai data, mengajari teman-temannya survei, mengadakan kontak dengan jaringan dalam dan luar negeri, membuat kurikulum dan menyebarkan virus kemandirian civil society, LSM dan komunitas epistemik pembaharuan agama. Analisis sosial yang dipakai oleh IPM pun tidak terlepas dari sumbangsihnya.

Kader-kader Mansour Faqih kini tumbuh menjadi tokoh-tokoh LSM yang tersebar di nusantara, mereka bekerja diakar rumput mendampingi kaum marginal merengkuh hak-hak ekosos dan politiknya.

Pelajaran apa bisa diambil dari pengalaman orang-orang besar itu? Saya ingin mengajak anda memaknai bahwa dari semua proses yang mereka lakukan, ada konsistensi, ada kesungguhan, dan kemauan berproses secara terus menerus. Seperti halnya pencarian Ibrahim atas Tuhannya. Ia konsisten dengan kebenaran pikirannya bahwa ada satu Tuhan dalam semesta ini. Percayalah, hampir 80% keberhasilan itu disumbangkan oleh konsistensi. Dan 20 % lebihnya dibagi-bagi, ada kecerdasan, ada yang lain.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini, dengan pesan berkomunitaslah dan jangan lupa sholat. Wallahu A’lam.

0 komentar:

Post a Comment

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter