Wednesday, April 9, 2008

Transmisi Keilmuan dan Keulamaan Hamka

Kemarin pagi di Hotel Century Park, Jakarta diselenggarakan seminar oleh Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA. Sebagai pembicara dua buya, yaitu Ahmad Syafii Ma'arif dan Azyumardi Azra serta JD Howell, peneliti dari Graffiti University. Sedangkan Seri Dato Anwar Ibrahim bertindak sebagai key note speaker.

Ada yang menarik disampaikan oleh Anwar Ibrahim. Dia mengatakan "Ada aloofness (keterpisahan) antara sang intelektual dengan rakyatnya". Oleh mantan wakil perdana menteri Malaysia ini menyebut Hamka sebagai public intellectual. Tetapi yang sangat dikaguminya adalah kemampuan Hamka berdialog dengan rakyat. Hamka menulis untuk rakyat. Makanya wacananya, discoursenya berakar pada persoalan kerakyatan.

Itu yang saya sebut dalam tulisan saya terdahulu dengan intellectual organic. Hamka tidak saja membangun diskursus intelektual yang melangit, tetapi betul-betul berakar pada masalah sosial, kemanusiaan.

Dalam novel legendaris, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, kamanusiaan Hamka sepenuhnya berpihak pada autentisitas Zainuddin yang bernasib malang, tetapi perasaan hambarnya terasa ketika Hayati menanggalkan keasliannya sebagai gadis desa karena tergoda oleh kemilaunya kota, sekalipun kemudian menyesal.

Tidak berhenti disitu, dalam novel tersebut kritiknya jelas. Dia seorang yang sangat peduli dengan kemanusiaan. Dalam dirinya kekuatan spiritual, rasional dan seni telah menyatu, saling menegur dan saling menyapa dalam proses pembentukan sebuah ekuilibrium seorang pemikir menuju posisi insan kamil.

Hamka patut diteladi oleh kaum tua dan muda. Etos dakwahnya, pendiriannya, ketegasan sikapnya dan kemanusiaannya. Ia adalah bahan bacaan yang hampir utuh. Kita semua patut membaca karya-karya tulisnya. Wa Allahu A'lam.

Read More/Selengkapnya......

Thursday, March 27, 2008

Cinta Itu Beda dgn Keinginan Tuk Memiliki

"Cinta itu beda dengan keinginan untuk memiliki" Demikian antara lain ungkapan hati yang dilontarkan oleh tokoh Maria dalam novel dan film ayat-ayat Cinta menjelang akhir hayatnya. Terkadang memang agak susah menjelaskan antara cinta dan keinginan untuk memiliki sosok orang yang dicintai. Barangkali aku pun demikian. Ada cinta, dan ada keinginan untuk memiliki. Tapi salahkah itu? Tentu tidak dan wajar saja bila ada keinginan tuk memiliki.

Ketika si Maria sadar, bahwa ooh. Ternyata ada realitas lain yang sungguh dilematis. Realitas terkadang memang sangat sakit. Ketika Maria mendengar kabar Fahri. Sosok yang dikaguminya. Sosok yang dianggap sangat ideal. Dari Fahri lah Maria belajar tentang Islam. Belajar sisi lain dari agama yang dibawa oleh Muhammad. Dalam praktek agama yang dilakukan oleh Fahri, dia menemukan kedamaian Islam. Ia menemukan kebenaran agama wahyu itu.

Maria begitu rontok hatinya. Pecah, bak kaca yang kena peluru F4. Sungguh sangat duka ia. Hatinya tercabik, dan ia semakin hari semakin lemah. Sampai akhirnya ia harus masuk rumah sakit. Cinta telah membuatnya begitu duka. Kadang-kadang ini yang sangat susah untuk diterima. Cinta membuat Maria begitu hidup, kini ia harus menghadapi kenyataan lain yang sangat menyakitkan. Fahri menikah dengan perempuan lain.

Perasaan itu pernah pula dihadapi oleh Zainuddin, lelaki keturunan Minangkabau - Makassar dalam roman "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk". Zainuddin sangat cinta kepada Hayati. Cintalah yang menggerakkan ia menembus benteng tradisi minangkabau. Cinta yang menggerakkan ia tuk hengkan dari negeri Batipuh ke padang panjang. Cinta pula yang melemahkan semangatnya, sampai ia sakit dan hampir bunuh diri. Cinta .... cinta ...., Cinta telah membuat ia produktif melahirkan karya-karya. Membuat ia termasyhur dan menjadi pengarang terkenal.

Zainuddin begitu kaget menjumpai sikap Hayati begitu dingin. Sama sekali berbeda seperti mereka dahulu merajut janji. Ia menerima pinangan Azis, lelaki asal padang panjang yang kaya dan dari keturunan bangsawan. Zainuddin begitu hancur. Tapi itulah kenyataan. Itulah yang sedang terjadi. Sakit memang ... ...

Dua roman diatas cukup bisa menjelaskan banyak kenyataan yang hadir dalam hidupku. Caritanya terlalu panjang kira-kira kalau dinovelkan, bisa jadi dua novel. Tapi yang kusesalkan adalah, kenapa ia tidak jujur. Ia munafik, ia telah mengingkari firman hatinya. Tapi biarlah, cinta memang beda dengan keinginan tuk memiliki.

Read More/Selengkapnya......

Tuesday, March 11, 2008

Woi, Asyik Woi

bip ... bip ... sebuah pesan masuk diponsel bututku. Suara Hp itu menghentak dan membangunkanku dari tidur. "ya Allah, dah jam enam lewat" kagetku. Aku cepat sholat subuh dan mandi. Hari ini aku ada agenda kekampus. Kemarin Noni memanggilku tuk hadir diseminar penelitiannya. Sebagai teman angkatan yang baik aku harus hadir, sebab aku juga kalau seminar berharap teman-teman bisa hadir.

Aku memutuskan untuk naik angkot hari ini. Kenapa? Angkot turunnya depan fakultas, kalau trans harus jalan kaki lagi dari kopma ke pertanian, kira-kira sekilo. Tapi lebih disebabkan karena aku memang buru-buru. Biasanya aku naik trans jogja kok. Disamping adem, juga bisa sambil olah raga. Sebab setamatku dari SMA, aku jarang sekali berolah raga. Padahal di sekolah dulu aku juara beberapa cabang.

Disamping pengen hadiri seminar, juga rencananya konsultasi dengan Prof Sri Widodo. Ia adalah guru besar emeritus fakultas pertanian UGM yang membimbingku. Ahli dalam mikro ekonomi dan kebijakan pertanian. Kira-kira jam 13.00 Wib saya menghadap beliau di Professor Room. Cukup ramah. Beruntunglah dibimbing oleh dia. Proposalku benar-benar dibaca. Dibanding dengan teman-temanku yang lain, memang mulus diproses-proses awal, tapi ketika seminar dan ujian ia dihabisi.

Karena hujan, aku tidak langsung pulang. Istirahat seadanya diselasar fakultas sambil membaca pengumuman yang tersebar banyak di papan-papan pengumuman fakultas. Setelah hujan redah barulah aku menuju fakultas hukum tuk ngambil bus jalur 12. Tidak lama kemudian busnya datang. Karena capek, aku tertidur di bus. Ya elah, bablas. Mestinya aku turun di purwo diningratan (kantor PP Muhammadiyah) akhirnya terbangun di shopping center. "Waduh harus jalan kaki nich" gumamku dalam hati.

Jalanlah aku ke Ahmad Dahlan, eh pas dilampu merah ada orang yg dah agak tua (kira-kira 60-an tahun) bertanya "dek, kantor pegadaian dimana?". Saya menjawab saja "ndak tau pak". Biasanya belum tutup kok kantor pegadaian kalau jam segini. Dia orang Bengkulu ngakunya. Anaknya sedang dioperasi di RS Sarjito. Sementara kirimannya belum sampai. Ia lalu minta bantuan ke saya.

"Bisa nggak, adik membantu saya" tanyanya.
Apa yang bisa saya bantukan? lalu dia bilang "bantu uang" sambungnya. "Waduh kalau yang itu, saya tidak punya uang pak" lalu aku menceritakan bahwa baru saja aku minjamin temanku uang, ia wartawan media di Makassar, karena mau pulang sementara uangnya hilang, ya aku bantu dia ujarku. "Jadi aku nggak punya duit pak" jawabku lagi.

Dengan agak memelas, dia menjelaskan bahwa ia ada acara ke Jakarta, tapi tiba-tiba ditelepon sama anaknya di Jogja, karena akan operasi. Akhirnya dia ke Jogja. Ia ke pegadaian mau gadai barangnya. Lalu naik taxi dan ya pegadaiannya tutup, sementara uangnya tinggal Rp 6000. "Bisa nggak dik, untuk bayar mobil saja, kalau bukan sesama rantau, aku sangat malu meminta ma adik". Saya juga memang sedang tak punya duit saat ini pak. Disamping curiga, jangan-jangan dia cuman nipu saya. Tapi dari bahasa, logat dan raut mukanya, memang Bapak ini jujur. Ia sedang dalam musiba memang. "pak aku cuman punya ini, Rp 10.000" ujarku. Semoga membentu pak ya. Salam

AKU tinggalkan bapak tadi, jalan terus ke PP Muhammadiyah, dijalan ketemu Isngadi yang mengetawaiku karena ketiduran dibus. Lalu ketemu Basyir di dekat toko buku Toha Putra. Dia ngajak aku makan. "makan yuk, mul" ajaknya. "Weslah sir" jawabku. Kami makan di rumah makan padang. Eh, ternyata ketemu kang Asep di RM itu. Ya dibayarinlah ma dia. Alhamdulillah

Mungkin itu ya, yang dimaksud oleh Tuhan "barang siapa yang beriman kepada Allah, maka Ia akan membukakan rezki yang tidak disangka-sangka dari mana datangnya". Terkadang memang suatu tindakan dibalas langsung oleh-Nya, apa ini bentuk balasan langsung dari Allah atas bantuan kecil yang ku ulurkan kepada si bapak itu. Tapi apa pun itu, terkadang, Allah mengajak kita berdialog dalam suatu dimensi yang agak susah untuk kita pahami.

Seperti juga ketika Allah mengajak berdialog seorang Fahri dalam film ayat-ayat cinta lewat fitnah yang ditimpa Fahri. Begitu indahnya proses dialog itu. Walau ia hanyalah imajinasi sutradaranya. Tapi itulah sebuah kehidupan. Kadang kita harus terlibat secara aktif dan memaknai kehidupan ini. Wa Allahu A'lam.

Read More/Selengkapnya......

Monday, March 3, 2008

Gizi Buruk Lagi


Tiba-tiba saja publik Makassar dikagetkan oleh berita kematian seorang ibu rumah tangga. Belum selesai dari pemberitaan tawuran mahasiswa Unhas. Kini kuping kita kembali menerima kabar buruk, kekurangan gizi. Walau pun oleh pejabat pemkot (Walikota dan Kadis Kesehatan) membantah kasus itu sebagai gizi buruk. Tetapi bila dilihat visualisasi si anak lewat TV, memang menandakan bahwa anak itu mengalamai gejala gizi buruk.

Saya kira masalahnya Makassar tidak kekurangan beras, sebab Sulsel adalah produsen beras nasional. Tapi apakah warga kota bisa mengakses (membeli) beras, sebagai kebutuhan pokok? Saya kira disini letak persalannya. Berarti kan ada masalah tata kelola pangan di Makassar. Walau pun Walikot menyatakan tidak. Demikian juga kasus-kasus yang serupa di wilayah lain.

Kasus ini setidaknya membuka mata kita untuk melihat betapa dekatnya masalah itu dengan rakyat. Makassar boleh bangga sebagai gerbang Indonesia timur, tapi apa maknanya bagi kaum miskin? Makassar boleh bangga dengan kemajuan kotanya yang semakin sesak. Juga dengan bangunan mall, yang menjadi simbol baru kota ini setelah karebosi dilego ke pemodal. Tapi bukankah semua itu tidak ada hubungannya dengan orang miskin. Mereka tetap saja digusur, dan serba tidak jelas nasibnya. Seakan tanah Makassar adalah milik orang berpunya saja. Kemana ruang orang miskin. Seandainya Sultan Hasanuddin masih hidup, betapa malunya ia mewarisi generasi yang tidak mampu mengurus kota.

Sebagai anak Sulsel dirantau, ngeri melihat ada kasus-kasus seperti ini. Mestinya tradisi siri' sudah absah dilakukan. Seperti juga orang-orang Japan yang melakukan hara kiri, karena gagal mengurusi suatu bidang tertentu. Siri'ko tu mapparentayya. Karena punna tenamo siri'nu, berarti dunia telah tiada, dan proses bermasyarakat sudah selesai. Sebab siri' adalah bagian dari tradisi kita, orang bugis-makassar bermasyarakat dan berbudaya.

Iiih, ngerinya.
.

Read More/Selengkapnya......

Sunday, February 17, 2008

HAMKA dan Intelektual Organik


Membicarakan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) menjadi topik yang menarik. Tidak saja dalam hubungannya dengan dia sebagai seorang ulama. Tetapi luasnya kajian dan aktivitas tokoh Minangkabau ini. Sehingga teramat sulit bagi kita untuk mempersonifikasi dia sebagai sosok tunggal ke-ulamaannya. Jangan-jangan dengan mempersonifikasi pendiri panji masyarakat ini pada satu sosok, maka kapasitasnya yang begitu luas dan dalam bisa tereduksi.

Hamka lahir 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatra Barat. Suatu wilayah yang dikenal dengan tradisi Islam yang kuat. Sakin kuatnya tradisi Islam di bumi Andalas itu, maka tidak mengherankan jika dikenal somboyan “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan syariah, syariah bersendikan kitab suci Al-Qur’an)”. Somboyan tersebut merupakan pepatah ideologis yang menggambarkan bagaimana persentuhan antara kebudayaan Minangkabau yang dipengaruhi oleh Islam.

Tumbuh dalam tradisi keagamaan yang kuat, turut membentuk bagaimana watak dan karakter seorang Hamka. Apalagi ayahnya Abdul Karim Amrullah merupakan pelopor pembaharuan Islam di Minangkabau, mendirikan Perguruan Islam Sumatera Thawalib di Padang Panjang, Hamka pun belajar di sana sembari belajar agama dari Syekh Ibrahim Musa, Parabek.

Gerak nalarnya menjadi pemicu yang kuat bagi Hamka untuk belajar ilmu pengetahuan secara otodidak seputar Islam, ilmu filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik Islam maupun Barat. Dari aktifitas intelektualnya itulah dia menyusun karya-karya yang demikian banyak, juga dengan ragam tema bahasan. Ada kurang lebih 118 karya baik dalam buku atau pun tulisan-tulisan pendek yang tersebar diberbagai media. Diantara karya-karya monumentalnya adalah tafsir Al Azhar (5 jilid), novel tenggelamnya kapal van der wijck, di bawah naungan ka’abah dan merantau ke deli.

Intelektual Organik
Penguasaan ilmu alat yang bagus, seperti bahasa membuat Hamka begitu leluasa membaca karya-karya banyak intelektual ternama. Dengan ilmu bahasa itulah dia dapat mengakses karya tulis Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Toh, Hamka tak mengurangi berdiskusi dengan tokoh Indonesia, misalnya, HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo.

Disamping berkenalan dengan dunia intelektual, Hamka juga turut secara aktif bergiat pada wilayah aksi. Dengan usia yang sangat belia, 17 tahun Hamka sudah aktif di Syarikat Islam (SI). SI merupakan organisasi politik yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto sebagai wadah perjuangan bagi masyarakat Islam Indonesia melawan imperialisme dan kolonialisme yang menancapkan kukunya di nusantara. Pembacaannya yang dalam tentang nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan keadilan, mendorong kesadaran Hamka untuk membangun kekuatan melawan imperialisme. Keterlibatannya dalam politik mengantar Hamka menjadi anggota konstituante pada tahun 1955 dari Masyumi.

Sejak muda pula, di usia 20 tahun Hamka sudah menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah. Sebuah organisasi Islam, dakwah amar makruf nahyi mungkar yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta dengan tujuan menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Kalau sedikit direfleksikan dengan kondisi saat ini, maka betapa majunya ketika itu Muhammadiyah. Saat ini dengan kondisi Muhammadiyah saya yakin tidak ada Ketua Cabang Muhammadiyah yang umurnya 20 tahun. Aktifitasnya di persyarikatan Muhammadiyah menjadikan dia harus berpindah dari satu tempat ketempat lainnya dalam rangka menegakkan dakwah Islamiyah. Hamka pernah pula menjadi konsul Muhammadiyah pada tahun 1930-an di Makassar. Kontribusi Hamka bagi peryarikatan Muhammadiyah sangatlah berarti bagi perkembangan gerak lembaga tersebut.

Itulah mengapa sosok Hamka begitu sangat luas. Menggalinya bak lautan yang maha luas. Aktivitas intelektualnya, ke-ulamaannya, pujangga dan sebagai aktivis (praksis) sekaligus menjadikan Hamka bisa disebut sebagai intelektual organik. Itulah istilah yang mungkin bisa menggambarkan sosoknya yang begitu sangat fenomenal. Intelektual organik sendiri diperkenalkan oleh seorang intelektual haluan kiri, Antonio Gramchi.

Belajar pada Hamka
Gambaran sosok Hamka yang demikian paripurna adalah cerminan untuk semua manusia. Kita bisa belajar banyak hal dari ulama yang satu ini. Pencarian intelektualnya adalah refleksi betapa ia sangat haus akan ilmu pengetahuan. Lihatlah pernyataannya : “Ketika buku yang saya baca baru lima buah, saya cepat sekali menyimpulkan satu hal mengenai agama dan emosi, tapi ketika buku yang saya baca sudah lima puluh, saya menjadi lebih paham, dan tidak merasa perlu bersikap seperti itu,”

Kehidupan Hamka adalah bentangan teks yang harus dibaca oleh semua pembelajar. Kepada para penggiat Islam (ulama dan intelektual Islam), belajarlah pada kearifan Hamka. Bacalah sebanyak mungkin buku, kitab baik yang gundul atau pun yang gondrong. Agar timbangan yang dibuat proporsional, sehingga tidak mudah untuk memfonis satu komunitas hanya karena berbeda pandangan atau perspektif. Hamka mengajarkan kita belajar yang mendalam.

Sebagai aktivis dan ulama, Hamka sangat aktraktif dalam mendakwahkan Islam. Dia tidak monolitik dengan cara-cara yang konvensional. Berbagai media dia gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan ke arifan Islam. Hal ini bisa dilihat dari karya sastra berupa novel yang sangat inspiratif. Hamka mengangkat sisi kemanusiaan yang tidak luput dari apa yang disebut dengan cinta. Dia menuliskan pesannya dengan sangat cerdas pada novel tenggelamnya kapal van der wijck. Kritiknya tegas, bahwa dalam Islam tidak ada kasta, masyarakat Islam adalah masyarakat egaliter yang menghargai kesetaraan. Itulah yang dia urai dalam novel legendaris tersebut.

Sedangkan kehidupan politik Hamka mengajarkan kita pada konsistensi, ketulusan dan kerendahan hati. Sebab konsistensi dan etika dalam aktivitas politik begitu penting artinya. Dalam politik harus ada ketegasan sikap mau membela kebenaran atau bermain-main dengan kebenaran. Hamka mengajarkan istiqomah, jangan karena alasan 20% di 2009 sebegitu cepatnya haluan ideologi partai akan dirubah. Kecuali kalau alasannya mendasar mungkin bisa saja. Tapi kalau alasan 20%, tidak substansial.

Kesantunan dan kerendahatiannya adalah catatan yang patut dicontoh oleh para elit politik. Jangan karena dikritik lalu sakit hati dan melapor kepolisi. Seorang pemimpin harus bisa menerima kritik dari publik. Sifat rendah hati diajarkan dengan baik oleh Hamka, betapa ia ditindas oleh rezim orde lama, yang mengantarkan dia ke bui, 1964 - 1966. Tetapi ia tidak patah arang. Karyanya tafsir Al Ahzar bahkan lahir dari upaya kreatifnya di penjara. Pemenjaraanya tidak membuatnya ia sakit hati. Bahkan ia sendiri yang menjadi imam dalam pemakaman bung Karno yang telah memenjaranya.

Akhirnya, peringatan 100 tahun Hamka diharapkan semua orang bisa mengangkat hal-hal positif yang diajarkan oleh Hamka, baik yang tertulis atau pun tidak. Sehingga bisa bermamfaat bagi ke-Islaman dan kebangsaan kita. Wa Allahu A’lam.

Read More/Selengkapnya......

Monday, January 7, 2008

Banjir dan Tatakelola Pangan

Masmulyadi
Analis Institute for Food, Rural and Agricultural Development Studies (INFRARED)

Banjir barangkali merupakan tamu rutin yang setiap saat datang, betapa pun ia tak diudang. Tapi mengapa selalu saja bangsa ini tidak pernah siap? Andai saja bangsa ini diibaratkan seorang perempuan, maka ia pasti siap. Sebab tamu bulanan itu sudah rutin dan karenanya mengerti apa yang harus dipersiapkan.


Tapi kenapa bangsa ini selalu saja gagal dalam mengantisipasi banjir? Dulu waktu saya kecil, jarang sekali terdengar berita tentang kebanjiran. Itu tahun 1980-an dan tentu beda dengan hari ini. Dulu ayah saya sering bercerita bagaimana kakek berburu Rusa di hutan dengan alat tangkap sederhana dan Anjingnya.

Sekarang memang agak berbeda dari dulu. Kalau dulu masih banyak hutan, maka saat ini lahan-lahan sudah banyak yang gundul. Entah siapa yang mencukurnya! Tapi jelas ada pencukurnya. Walau ia tidak mengaku. Bahkan kabar dari Riau, berton-ton kubik kayu di amankan oleh pihak kepolisian karena ulah pencukur itu yang rakus. Kira-kira bahasa kerennya, Illega Logging. Kasus ini satu dari seribu kasus yang setiap saat terjadi. Lucunya banyak kasus-kasus seperti ini justru selesai dibawah meja. Artinya tidak sampai dimeja hijau. Kalau pun sampai, bukan mejanya yang hijau. Tapi mata hakim dan jaksanya yang jadi hijau karena uang. Semua orang tahu hal-hal seperti ini. Tapi secara hukum amat sulit dibuktikan. Apalagi penegak hukum di Indonesia. Hallah

Itulah soalnya, kenapa setiapkali hujan tiba, maka banjir selalu tak terbendung. Karena daerah resapan air habis. Baik dibangun sebagai perumahan. Atau pun aktivitas lain. Kini diawal tahun 2008, dibuka dengan panorama banjir yang menelan puluhan korban di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat amukan bengawan Solo. Bahkan ditempat yang lain pun banjir, cuman tidak separah yang terjadi di kedua propinsi tersebut.

Akibat banjir, maka banyak sawah-sawah milik petani terendam air. Karena terendam air, maka proses fotosintesis dan perkembangan tanaman padi menjadi terganggu. Karena terganggu proses perkembangannya menyebabkan tidak bisa tumbuh dengan maksimal dan bahkan bisa mati akibat tergenang dengan air. Kalau demikian masalahnya, maka akibatnya pada pasokan pangan akan terganggu.

Sementara pangan sangat penting bagi kelansungan hidup manusia disamping kebutuhan akan udara dan air. Oleh karena itu, maka tatakelola pangan sangat penting dalam mengantisipasi hal-hal yang seperti ini. Pengalaman sepanjang tahun 2004 / 2005 cukuplah menjadi pelajaran bagi bangsa ini dalam mengelola persoalan pangan.

Bicara potensi, Indonesia negara yang sangat besar potensi produksinya. Masalahnya adalah sejauh mana potensi yang ada dimaksimalkan untuk pengembangan tanaman pangan. Mapping terhadap potensi ini sangat penting artinya guna membuat kebijakan-kebijakan pangan yang popular dan berpihak kepada publik.

Revitalisasi pertanian dan subnya harus benar-benar diwujudkan, tidak sekedar slogan kosong yang menghiasa media massa, kalau bicara pertanian. Disamping pengelolaan pangan yang berbasis keanekaragaman dan kemasyarakatan.

Read More/Selengkapnya......

Friday, January 4, 2008

Beras dan Kemiskinan Petani

Akhir-akhir ini negara tetangga (sebutan Indonesia dalam komedi news dot com) mengalami problem pangan yang cukup serius. Terjadinya busung lapar di beberapa Provinsi seperti NTT, Papua dan NTB yang berakibat pada kekurangan gizi dan menyebabkan kematian merupakan masalah yang cukup mendasar dalam pengelolaan pangan nasional. Belum lagi masalah kemiskinan yang cukup serius yang melilit petani. Bahkan untuk membeli beras yang mereka produksi pun tidak mampu.

Dua minggu terakhir ini kita disuguhi oleh media massa soal harga beras yang cukup tinggi. Sehingga menyebabkan masyarakat semakin susah untuk mengakses beras. Logikanya kalau harga beras tinggi maka petani akan sejahtera. Sebab beras diproduksi oleh petani. Namun dalam dunia empirik kenyataan ini sungguh jauh panggang dari api. Penelitian Bank Dunia yang dirilis awal November 2006 dengan sangat menyentak menyimpulkan bahwa kenaikan harga beras sebasar 33% telah menyebabkan kenaikan angka kemiskinan sebanyak 3,1 juta orang.

Itu berarti bahwa setiap kenaikan harga beras akan terjadi pertambahan penduduk miskin. Pilihannya kemudian bagi pemerintah adalah apakah mau berpihak kepada petani atau kepada pasar? Dan siapa yang untung dibalik kenikan harga beras yang mahal itu? Serta keputusan apa yang mesti dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang otoritas yang paling bertanggungjawab terhadap masalah kemiskinan?

Masalah beras dalam kontek ekonomi politik memang sering menjadi komoditas politik yang sangat menarik untuk dimainkan. Kenapa menjadi menarik? Karena beras dijadikan sebagai penjaga inflasi oleh pemerintah. Akibatnya petani merugi terus karena total costnya lebih besar dari pada insentif yang mereka terima dari aktifitas on farm. Ini misalnya kita bisa lihat dari regulasi perberasan No. 13 Tahun 2005 tentang perberasan yang tidak lagi menggunakan harga dasar (HD) tetapi harga pembelian pemerintah (HPP). Ini berarti bahwa tidak ada lagi proteksi yang kuat bagi petani.

Sekarang dengan harga yang cukup tinggi yaitu kisaran Rp. 4.800/Kg sampai Rp. 6.000/Kg apakah petani menikmati harga itu? Jawabannya tidak, lalu siapa yang meraup untung dibalik itu semua? Yang menikmati harga itu adalah mereka para tengkulak dan pedagang beras. Pada kontek ini saya kira operasi pasar memang menjadi penting untuk dilakukan. Tetapi perlu dicatat bahwa itu ruang lingkupnya terbatas untuk beberapa waktu saja dan sifatnya sebagai upaya karitatif.

Oleh karena itu upaya-upaya karitatif harus diikuti dengan upaya lain. Seperti mempercepat realisasi reformasi agraria yang dijanjikan oleh pemerintah. Dengan reformasi agraria dan pembagian lahan, diharapkan petani memiliki luas lahan yang ekonomis untuk mengembangakan komoditas padi. Sehingga rasio antara produksi dan jumlah penduduk atau konsumen bisa seimbang. Pada akhirnya harga beras bisa menjadi stabil kembali.

Hal lain yang harus dilakukan adalah meninjau ulang kebijakan politik beras. Sebab kontek UU No. 13 Tahun 2005 dibuat berdasarkan harga eceran pupuk waktu itu. Nah kalau kemudian struktur cost juga berubah, maka harus pula diikuti dengan perubahan peraturan yang lebih pro kaum petani. Pemerintah perlu membuat aturan yang logis soal perberasan. Ketak pastian dan resiko yang cukup besar (seperti harga, kekeringan, hama dan penyakit, dlll) yang dialami oleh petani menjadikan bekerja sebagai petani adalah bekerja sebagai penjudi yang serba tidak jelas.

Read More/Selengkapnya......