Skip to main content

Budaya Rate' di Makassar

Rate' (pembacaan syair pujian pada Rasulullah SAW dan keluarganya) artinya membaca kisah atau syair-syair pujian terhadap Rasulullah SAW dan keluarganya dengan lagu dan irama tersendiri yang amat khas dan menyentuh hati. Rate' juga berawal dari kebiasaan masyarakat Gantarang Lalang Bata disaat memperingati hari besar Islam yaitu Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Cikoang – Takalar – rate’ merupakan bagian dari acara peringatan maulid (maudu lompoa), biasanya berlangsung sekitar dua jam. Rate’ secara umum merupakan tradisi Islam dalam kebudayaan Makassar. Daerah-daerah yang secara geografis atau geopolitik masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Gowa mengenal rate’ ini. Walaupun setiap daerah berbeda dalam hal rangkaian-rangkaian acaranya.


Di Selayar rate’ memiliki rangkaian acara, antara lain adalah "ammasa" (membaca ayat-ayat dalam kitab suci Al-Qur'an), "barzanji" (puji-pujian kepada Allah Swt dan Historitas perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab) dan "karra' pandang" (acara ritual dimana pasangan muda mudi yang mengiris pandan saling berpantun untuk mencari jodoh). Ritual inilah yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Selayar sebagai salah satu dari bagian budaya Islam kuno pada setiap memperingati acara Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.

Makanan khas yang disajikan pada acara tersebut diatas pun bervariasi, misalnya "songkolo" (ketan yang dimasak lalu dimasukkan dalam wadah yang terbuat dari anyaman daun lontara, kemudian diberi potongan ayam goreng dan telur rebus) dan "susuru" (kue berbahan dasar ketan, gula aren dan telur yang kemudian digoreng lembab).

Comments

Popular posts from this blog

Pemamfaatan GIS dalam Dakwah Muhammadiyah

Dalam sebuah forum pengajian Ramadhan tahun 2010 yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah terlontar kegundahan banyak peserta. Apa pasalnya? Setiap periode, Muhammadiyah memprogramkan penyusunan peta dakwah, tapi tidak pernah bisa direalisasikan. Masalahnya bukan tidak bisa nyusun? Apalagi tidak punya sumberdaya. Problem utama saya kira ketidak jelasan fungsi manajemen dalam struktur PP Muhammadiyah yaitu, siapa yang bertugas dalam penyusunan peta dakwah itu. Di abad ini, dimana perkembangan teknologi yang sangat maju maka, mengandalkan peta dakwah konvensional sudah saatnya ditinggalkan. Salah satu teknologi pemetaan yang sangat efisien ialah bagaimana pemamfaatan sistem informasi geografis (SIG/GIS) dalam menyusun peta dakwah Muhammadiyah. Apa itu GIS dan kenapa Muhammadiyah harus memakai teknologi ini? GIS ialah sistem infomasi berbasis komputer yang menggabungkan antara unsur peta (geografis) dan yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, informasinya tentang p...

Perubahan Sosial dan Dinamika Gerakan Mahasiswa

Pengantar Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan. Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan ekstraparlemen yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara. Gerakan mahasiswa baik sebelum ataupun pasca tahun 1998 bagi saya tidak bisa dipisahkan dari ruang dan waktu dimana entitas mahasiswa itu hadir. Karena itu gerakan mahasiswa selalu ...

Fir’aun dan Asas Tunggal Pragmatisme

Tulisan Haris Baginda tribun, (12/01) bertajuk “Langkah PKS Menempatkan Soeharto Sebagai Guru Bangsa” cukup mengusik nalar saya. Kesimpulan sekaligus vonis terhadap Jurdi dengan kekerdilan pustaka dan refrensinya merupakan vonis yang amat jauh dari substansi tulisan. Kesimpulan tersebut lebih tepat disebut argumentum ad Hominem. Yaitu cara berargumentasi yang keliru dimana orang yang mengemukakan argumentasi yang diserang bukannya argumen atau ide itu sendiri. Sebagai cendekiawan muslim (ICMI dan KAHMI), bung Haris mestinya membaca secara utuh tulisan Jurdi. Dari pembacaan utuh itulah akan ditarik pokok ide kemudian dilakukan kritik terhadap ide itu. Bukan menyerang orangnya untuk membuat kesimpulan. Ini amat menggelikan dalam sebuah tradisi ilmiah. Analogi yang dilakukan Jurdi dengan mencoba mengangkat sifat dan karakteristik kepemimpinan Fir’aun seperti fasis, tamak, penindas, despotik, gila kuasa, refresif dan pada tingkat tertentu mengaku sebagai Tuhan lalu ditarik ke konteks r...