Skip to main content

Refleksi Kemerdekaan


Semarak bendera merah putih, umbul-umbul dan berbagai macam spanduk menandai peringatan ke-63 tahun kemerdekaan nasional. Diberbagai penjuru negeri, anak-anak bangsa merayakannya. Artikulasi perayaan pun bermacam-macam. Ada yang menggelar lomba-lomba dan berbagai aktivitas lainnya.

Tapi pertanyaan yang cukup sederhana adalah sudahkan kita merdeka? Sementara disana disudut-sudut kampung masih saja anak negeri ini kelaparan, kekurangan gizi dan menderita penyakit. Sudahkan kita merdeka? Sementara kekayaan alam negeri kita masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.


Sudahkan kita merdeka kawan! Kita belum merdeka. Disana, di desa-desa masih saja terjadi pemiskinan. Anak-anak negeri belum bisa mengekspresikan keagamaannya dengan bebas sebagai hak asasi dari Tuhannya. Mereka diburu. Mereka ditidas. Mereka seperti pelaku kriminal.

Kemerdekaan itu harus dimulai dari kemerdekaan batin, kemerdekaan fikiran. Karena kemerdekaan pada hakikatnya adalah kedaulatan. Kemerdekaan adalah kebebasan ekspressif. Kemerdekaan adalah jalan perubahan.

Kita masih belum merdeka kawan. Karena fikiran, batin dan hati kita masih dikurung dalam penjara-penjara semu dunia. Kita masih takut tidak dapat makan. Kita masih takut kehilangan jabatan. Jadi kawanku, kita ini belum merdeka.

Comments

Popular posts from this blog

Pemamfaatan GIS dalam Dakwah Muhammadiyah

Dalam sebuah forum pengajian Ramadhan tahun 2010 yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah terlontar kegundahan banyak peserta. Apa pasalnya? Setiap periode, Muhammadiyah memprogramkan penyusunan peta dakwah, tapi tidak pernah bisa direalisasikan. Masalahnya bukan tidak bisa nyusun? Apalagi tidak punya sumberdaya. Problem utama saya kira ketidak jelasan fungsi manajemen dalam struktur PP Muhammadiyah yaitu, siapa yang bertugas dalam penyusunan peta dakwah itu. Di abad ini, dimana perkembangan teknologi yang sangat maju maka, mengandalkan peta dakwah konvensional sudah saatnya ditinggalkan. Salah satu teknologi pemetaan yang sangat efisien ialah bagaimana pemamfaatan sistem informasi geografis (SIG/GIS) dalam menyusun peta dakwah Muhammadiyah. Apa itu GIS dan kenapa Muhammadiyah harus memakai teknologi ini? GIS ialah sistem infomasi berbasis komputer yang menggabungkan antara unsur peta (geografis) dan yang dirancang untuk mendapatkan, mengolah, memanipulasi, informasinya tentang p...

Perubahan Sosial dan Dinamika Gerakan Mahasiswa

Pengantar Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan. Keberadaan gerakan mahasiswa dalam konstelasi sosial politik di negeri ini tak bisa dipandang sebelah mata. Diakui atau tidak, keberadaan mereka menjadi salah satu kekuatan ekstraparlemen yang selalu dipertimbangkan oleh berbagai kelompok kepentingan (interest group) terutama pengambil kebijakan, yakni negara. Gerakan mahasiswa baik sebelum ataupun pasca tahun 1998 bagi saya tidak bisa dipisahkan dari ruang dan waktu dimana entitas mahasiswa itu hadir. Karena itu gerakan mahasiswa selalu ...

Fir’aun dan Asas Tunggal Pragmatisme

Tulisan Haris Baginda tribun, (12/01) bertajuk “Langkah PKS Menempatkan Soeharto Sebagai Guru Bangsa” cukup mengusik nalar saya. Kesimpulan sekaligus vonis terhadap Jurdi dengan kekerdilan pustaka dan refrensinya merupakan vonis yang amat jauh dari substansi tulisan. Kesimpulan tersebut lebih tepat disebut argumentum ad Hominem. Yaitu cara berargumentasi yang keliru dimana orang yang mengemukakan argumentasi yang diserang bukannya argumen atau ide itu sendiri. Sebagai cendekiawan muslim (ICMI dan KAHMI), bung Haris mestinya membaca secara utuh tulisan Jurdi. Dari pembacaan utuh itulah akan ditarik pokok ide kemudian dilakukan kritik terhadap ide itu. Bukan menyerang orangnya untuk membuat kesimpulan. Ini amat menggelikan dalam sebuah tradisi ilmiah. Analogi yang dilakukan Jurdi dengan mencoba mengangkat sifat dan karakteristik kepemimpinan Fir’aun seperti fasis, tamak, penindas, despotik, gila kuasa, refresif dan pada tingkat tertentu mengaku sebagai Tuhan lalu ditarik ke konteks r...